Web Novel : Evil's Reasons
Prolog
Ia adalah seorang murid SMP biasa.
Sedikit pintar namun tak sampai tingkat jenius, walaupun banyak yang
menyebutnya begitu. Di kenyataan berkali-kali ia di tes IQ dan hasilnya selalu
diatas 150 dan masih bertambah seiring ia tumbuh. Hidupnya agak membosankan
baginya, namun dapat berbahagia pada waktu-waktu yang amat langka dimana ia
dapat melakukan sesuatu yang menarik. Dengan berkhayal ia akan membuat suasana
di sekitarnya lebih seru, dan yang lebih jarang adalah melakukannya sungguhan.
Jika di sekitarnya ada yang melakukan sesuatu yang aneh maka ia akan
menggunakan imajinasinya yang liar itu untuk memuaskan dirinya sendiri. Ia akan
selalu sendiri kalau bukan karena kedua orangtuanya dan adiknya yang ia
sayangi. Ia merasa bahwa ia dapat hidup dengan tenang asal bersama mereka.
Seperti pada umumnya, anak-anak pendiam sepertinya selalu dijahili hingga
dianiaya di sekolah. Terkadang beberapa dari ‘kejahilan’ dan ‘permainan’ belaka
itu mengirimnya ke UKS selama sehari, namun ia tetap tenang karena ia percaya
keluarganya akan selalu ada untuknya. Imajinasinya yang liar itu juga selalu
mampu menghibur dirinya yang kesepian. Hal ini terus berlanjut sejak kelas 2 SD
hingga saatnya masuk ke jenjang SMP. Ia berpikir bahwa dirinya itu dapat
mengubah hidupnya walaupun seidkit agar tidak mendapat penganiayaan. Namun, berandalan
yang menganiayanya ikut masuk SMP yang sama dengannya, jadi sudah dapat ditebak
apa yang terjadi padanya selama semester 1 itu. Selama itu ia menahan, walau
sedikit, amarah dan benci terhadap orang lain selain keluarganya. Akhir-akhir
ini perasaan itu memuncak dan suatu hari lepas kendali. Walaupun di lubuk
hatinya ia tahu kalau ia lepas kendali itu akan membuat keluarganya sedih,
matanya telah dibutakan iblis amarah. Kehausan akan darah dari orang lain. Rasa
benci terhadap orang lain. Segala sakit dan luka ynag telah diterimanya. Semua
itu telah menggunung dalam dirinya dan hari itu mereka, telah menginjak sebuah
ranjau darat yang terhubung ke ratusan bom nuklir di sekitarnya. Tidak hanya yang
menginjak, tapi segala di sekitarnya ikut hancur.
Pada hari itu, ia mengamuk. Di saat
kaki salah satu penganiayanya menendangnya, ia menangkapnya dan menariknya. Ia
tiba-tiba bangkit dan mulai mengahajar semuar yang ada di sekitarnya waktu itu
dengan cepat, kira-kira ada 5 orang. Tidak hanya itu, rasa tidak puasnya
tertinggal. Walau sudah menghajar orang-orang itu ia merasa bahwa ini masih
kurang. Ia merasa bahwa mereka harus merasakan apa yang telah ia rasakan.
Diangkatnya meja terdekat dan dibantingnya berulang kali pada para penganiayanya
tanpa ampun, seperti mereka yang menyiksanya secara fisik dan mental tanpa
ampun selama bertahun-tahun. Dilakukannya terus menerus hingga kepala mereka
terlihat seperti bubur merah. Tapi dengan ini ia masih belum puas. Ia mengingat
bagaimana orang-orang lain selain penganiayanya hanya pernah menertawakannya
atau membiarkannya ketika dia dianiaya. Guru-guru juga telah membisu karena
jumlah sedikit uang yang telah mereka terima. Ia tak dapat dan tak berniat
memaafkan satupun dari mereka, yang hanya menonton dan menikmati siksanya
selama ini. Amarahnya menyebabkan tubuhnya memproduksi adrenalin dalam jumlah
besar dan beberapa anggota tubuhnya dipaksa melewati batasnya. Namun, dengan
amarah dan benci sendiri, ia mampu membuat segalanya mungkin. Saat ini ia hanya
mampu mengimajinasikan bagaimana ia harus membalas orang-orang itu. Seketika
itu salah satu anggota kelasnya masuk dan menatapnya dengan ketakutan di
matanya, lalu berteriak keras-keras. Ia tak dapat berpikir apa-apa dan langsung
berlari ke arahnya. Ia menabrakkan tubuhnya hingga tubuh anggota kelasnya itu
menabrak dinding, kepalanya terbentur paku di dinding yang digunakan untuk
menggantung sapu. Kini anggota kelasnya itu hanya mampu berdiri dengan
kepalanya menggantung di paku itu, matanya yang kosong menatap jauh. Mati. Hari
itu ia mengamuk dan membunuh siapapun yang dilihatnya, biar itu orang yang
menganiayanya atau bukan, ia tak dapat memaafkan mereka.
Di peristiwa berdarah hari itu
kira-kira 120 siswa-siswi SMP Cita Negeri 2 dibunuh dengan sadis. Ia baru dapat
dihentikan oleh pasukan polisi pengontrol kericuhan demo, yang masih membuahkan
korban jiwa, setengah dari pasukan itu mati dibunuhnya. Peristiwa ini
membuatnya, tak mampu memaafkan manusia selain keluarganya.