Selasa, 26 Januari 2016


Jam 5 Pagi Itu Sudah Siang


Bab 1

“Hukuman”

Kantor polisi pusat, HQ.

Aku ndak tahu kalau ada yang seperti ini di kotaku. Selama 2 tahun aku di kamar telah banyak yang berubah dari kota ini.

Kini kotaku menjadi ibukota negara, mengejutkan.

Aku dibawa ke ruang interogasi dan dilucuti dari barang bawaanku. Tentu mereka hanya akan menemukan kantung kecil berisi recehan, tapi itu pun tetap diambil.

Sampai kantung itu ndak kembali aku berhak menuntut, lho. Recehan, kan, lumayan buat beli tempe goreng...satu.

Aku diminta duduk dan ditanyai hal-hal yang tak kumengerti.

Terorisme? Kupikir aku sudah dihukum atas itu.

Ledakan? Sistem? Virus?

Semakin ditanyai semakin aku tak mengerti, tapi ada satu hal yang kumengerti. Ini tentang perusahaanku, CreArts. Ada apa sekarang?

“Kau dituduh atas terorisme, terhadap semua pengguna dan orang disekitar pengguna perangkat lunakmu di dunia.”

“Terorisme terhadap pengguna CreArts?”

“Jangan berlagak bodoh! Semua komputer yang menggunakan software CreArts meledak kecuali milikmu!”

Meledak? Sejak kapan? Aku ndak lihat apa-apa di detiknews...oh, karena komputer servernya meledak. Dan bagaimana mereka tahu komputerku ndak meledak? Stalker. Mereka pasti menyusup atau memata-matai aku dengan suatu cara.

“Ya sudah, sekarang hukumannya apa?”

“Menghitung semua masalah dan kerusakan yang kau sebabkan, 103 tahun penjara dan ganti rugi sebanyak 90,000 miliar dolar Zimbabwe.”

“Dolar Zimbabwe?”

“Ya bukanlah, dolar Amrik.”

Aku hanya dapat terdiam. Hukuman itu artinya seumur hidup di penjara, dan semua milikku diambil ditambah hutang beberapa puluh milar. Hampir semuar orang di Bumi memakai software CreArts dan dapat kubayangkan betapa ruginya mereka kalau komputernya meledak.

Ekonomi dunia akan hancur sementara dan krisis dimana-mana, hanya karena komputer mereka meledak.

Cyber-terrorism yang mematikan dan dapat berujung pada Perang Dunia III.

Tuduhan mereka bukan tanpa alasan, karena aku dpat mengirim pesan ke sluruh pengguna CreArts di dunia, jadi kenapa aku tak mengirim virus? Pasti mereka berpikir begitu.

Mereka bilang komputer orang-orang terkena virus dan meledak dahsyat. Beberapa ratus rumah terbakar dan ribuan orang meninggal.

Aku tak punya bukti untuk menyatakan aku tak bersalah, jadi aku akana membiasakan diri dengan makanan yang sama setiap hari dan tidur di ranjang keras.

“Baiklah, kumohon ambil semua dariku; perusahaanku, uangku, rumahku, tapi jangan ambil bajuku ini,”

“Jangan sok tenang begitu! Anak-istriku mati karena kamu! Kamu akan dikirim ke Nusakambangan, kuharap kamu mati membusuk di sana!”

Petugas yang mengiterogasiku tadi keluar sambil menangis.

Tapi, Nusakambangan, ya? Pulau penjara yang tiada bisa kabur darinya, paling tidak tanpa kendaraan laut atau udara.

Nah, mari kita hidup di penjara dengan bahagia!

--o--

Selasa, 19 Januari 2016

Aku mau ganti cerita, yang sebelumnya ndak terlihat prospek yang terlalu bagus *prospek apaan*



Jam 5 Pagi Itu Sudah Siang


Prolog

Aku terbangun di sebuah ruangan yang gelap. Di hadapanku terdapat tiga buah monitor ukuran 21 inci yang menayangkan barisan kode dan diagram-diagram rumit. Ini kamarku, pasti aku tertidur waktu menyelesaikan programku. Aku sampai lupa kalau ini kamarku sendiri.

Kamarku berantakan, sudah berapa bulan aku disini? 2 bulan? 8 bulan? Masa kehamilan?

Selama itu aku tidak pernah keluar dari kamar ini, bahkan untuk panggilan alam sudah tersedia tempatnya di kamar ini.

Rasanya badanku sedikit pegal, waktunya peregangan.

Aku berdiri dari kursi yang sangat empuk dan mulai meliukkan badanku. Suara tulang-tulangku mengertak dapat terdengar sangat jelas dengan setiap gerakan terkecil.

Kulihat di dinding kamarku tetempel kertas bertuliskan “29-02-2014”. Itu adalah hari ulang tahunku tahun lalu. Kulihat di kalender komputer bertuliskan “06-01-2016”.

Sudah hampir dua tahun aku di kamar ini, duduk, bekerja.

Pekerjaanku hanya mengatur perusahaan dan menyumbang ide-ide untuk program baru. Aku adalah seorang CEO perusahaan perangkat lunak, “CreArts” yang kudirikan tahun 2010 silam.

Tanggal lahirku memang aneh, aku lahir pada tahun 2002, tahun kabisat. Secara standar normal, aku berumur 13 hampir 14 tahun. Tapi secara jumlah ultah, aku baru berumur 3 tahun.Mungkin orang tuaku sengaja melakukannya, melahirkanku pada tanggal 26 Februari.

Orang tuaku.

Ketika memikirkan mereka aku terhenti, peregangan juga sudah selesai, sih. Ayahku meninggal ketika aku berumur 8 tahun akibat bom rakitan seorang teroris di tempat kerjanya. Kini kasus itu sudah selesai dan otaknya juga sudah dieksekusi. Ibuku.....ibuku hilang dua tahun lalu, di hari ulang tahunku yang ke-12. Ibuku hilang tanpa meninggalkan jejak sedikitpun, hingga terlihat seperti aku tidak pernah punya ibu ketika aku melapor ke polisi. Penculiknya telah mengambil dan menghilangkan semua bukti keberadaannya, para tetangga pun telah diancam dan dibisukan.

Aku tak tahu lagi apa yang harus kulakukan, jadi sebagai pencipta sistem operasi CreArts aku mengirim pesan dengan kode khusu kepada semua pengguna perangkat lunakku di dunia.

CreArts itu lumayan terkenal di dunia.

Pesan yang bertuliskan “Ibuku hilang, tolong carikan beliau.” Malah dianggap terorisme dan memunculkan mitos-mitos gelap tentang perusahaanku.

Apa itu Maksudnya?!

Karena itu aku dihukum dan dikurung di rumah selama 2 bulan, tapi pada akhirnya aku tak keluar kamar selama hampir 2 tahun.

Tak dapat kukatakan itu tak disengaja, tapi aku kehilangan harapan mencari ibuku. Tak ada jejak sedikitpun. Aku bahkan tak tahu harus mulai dari mana.

Tapi hari ini akan kucari ibuku! Langakah pertamaku keluar kamar dimulai hari ini!

Aku mandi sebentar untuk menyegarkan badan dan mengenakan pakaian untuk keluar rumah, kemeja dan celana panjang standar.

Aku buka kunci kamarku dan berjalan keluar menuju pintu rumah. Setelah beberapa langkah aku menyadari sesuatu yang aneh.

Rumahku bersih, kinclong.

Rumahku memang tidak terlalu besar, tapi selama ini aku selalu di kamar. Setiap pagi, siang, dan sore selalu ada makanan di mejaku. Siapa yang melakukannya?

Hantu kah? Hiiiy.

Aku melanjutkan langkahku menuju pintu dan mengenakan sepatuku. Aku agak terkejut sepatuku masih muat setelah 2 tahun terbengkalai, dan sekali lagi, bersih.

Ketika hendak membuka pintu aku mendengar suara aneh, seperti sirine. Kuletakkan tangaku de pegangan pintu dan perlahan memutar kuncinya lalu membukanya.

Seketika aku melangkah keluar aku langsung dibutakan cahaya yang sangat terang.

“Berhenti! Ini polisi, kau ditangkap atas tuduhan terorisme!”

Lagi?

“NghAAa?”

Kata-kata pertamaku dalam beberapa bulan terakhir tak dapat keluar seperti yang kuharapkan.

Di hadapanku baris-berbaris mobil polisi dan personil bersenjata menodongkan Kalashnikov dan UMP-45 ke wajahku. Di atas dapat terlihat helikopter polisi menyoroti pupilku yang mengecil dengan lampu 100 watt-nya itu.

Sepertinya ada fitnah disini, tapi aku masih belum pulih karena berbulan-bulan tak bergerak. Jadi, aku hanya dapat mengangkat tangan dan mengikuti mereka.

“Tolong jauhkan senjata api yang pengamannya masih terpasang itu...”

Aku berkata lirih tentang observasi tajamku. Para personil tadi langsung mengecek senjata mereka dan memandang satu sama lain, lalu melepas pengaman senjata mereka.

“Diamlah dan jalan!”

Dasar amatir.

Aku pun dibawa ke kantor polisi terdekat.

--o--