Jam 5 Pagi Itu Sudah Siang
Bab 1
“Hukuman”
Kantor polisi pusat, HQ.
Aku ndak tahu kalau ada yang seperti ini di kotaku. Selama 2 tahun aku di
kamar telah banyak yang berubah dari kota ini.
Kini kotaku menjadi ibukota negara, mengejutkan.
Aku dibawa ke ruang interogasi dan dilucuti dari barang bawaanku. Tentu
mereka hanya akan menemukan kantung kecil berisi recehan, tapi itu pun tetap
diambil.
Sampai kantung itu ndak kembali aku berhak menuntut, lho. Recehan, kan,
lumayan buat beli tempe goreng...satu.
Aku diminta duduk dan ditanyai hal-hal yang tak kumengerti.
Terorisme? Kupikir aku sudah dihukum atas itu.
Ledakan? Sistem? Virus?
Semakin ditanyai semakin aku tak mengerti, tapi ada satu hal yang
kumengerti. Ini tentang perusahaanku, CreArts. Ada apa sekarang?
“Kau dituduh atas terorisme, terhadap semua pengguna dan orang disekitar
pengguna perangkat lunakmu di dunia.”
“Terorisme terhadap pengguna CreArts?”
“Jangan berlagak bodoh! Semua komputer yang menggunakan software CreArts
meledak kecuali milikmu!”
Meledak? Sejak kapan? Aku ndak lihat apa-apa di detiknews...oh, karena
komputer servernya meledak. Dan bagaimana mereka tahu komputerku ndak meledak?
Stalker. Mereka pasti menyusup atau memata-matai aku dengan suatu cara.
“Ya sudah, sekarang hukumannya apa?”
“Menghitung semua masalah dan kerusakan yang kau sebabkan, 103 tahun
penjara dan ganti rugi sebanyak 90,000 miliar dolar Zimbabwe.”
“Dolar Zimbabwe?”
“Ya bukanlah, dolar Amrik.”
Aku hanya dapat terdiam. Hukuman itu artinya seumur hidup di penjara, dan
semua milikku diambil ditambah hutang beberapa puluh milar. Hampir semuar orang
di Bumi memakai software CreArts dan dapat kubayangkan betapa ruginya mereka
kalau komputernya meledak.
Ekonomi dunia akan hancur sementara dan krisis dimana-mana, hanya karena komputer
mereka meledak.
Cyber-terrorism yang mematikan dan dapat berujung pada Perang Dunia III.
Tuduhan mereka bukan tanpa alasan, karena aku dpat mengirim pesan ke sluruh
pengguna CreArts di dunia, jadi kenapa aku tak mengirim virus? Pasti mereka
berpikir begitu.
Mereka bilang komputer orang-orang terkena virus dan meledak dahsyat.
Beberapa ratus rumah terbakar dan ribuan orang meninggal.
Aku tak punya bukti untuk menyatakan aku tak bersalah, jadi aku akana
membiasakan diri dengan makanan yang sama setiap hari dan tidur di ranjang
keras.
“Baiklah, kumohon ambil semua dariku; perusahaanku, uangku, rumahku, tapi
jangan ambil bajuku ini,”
“Jangan sok tenang begitu! Anak-istriku mati karena kamu! Kamu akan dikirim
ke Nusakambangan, kuharap kamu mati membusuk di sana!”
Petugas yang mengiterogasiku tadi keluar sambil menangis.
Tapi, Nusakambangan, ya? Pulau penjara yang tiada bisa kabur darinya,
paling tidak tanpa kendaraan laut atau udara.
Nah, mari kita hidup di penjara dengan bahagia!
--o--