Kamis, 10 Desember 2015

Web Novel : Evil's Reasons

Prolog

            Ia adalah seorang murid SMP biasa. Sedikit pintar namun tak sampai tingkat jenius, walaupun banyak yang menyebutnya begitu. Di kenyataan berkali-kali ia di tes IQ dan hasilnya selalu diatas 150 dan masih bertambah seiring ia tumbuh. Hidupnya agak membosankan baginya, namun dapat berbahagia pada waktu-waktu yang amat langka dimana ia dapat melakukan sesuatu yang menarik. Dengan berkhayal ia akan membuat suasana di sekitarnya lebih seru, dan yang lebih jarang adalah melakukannya sungguhan. Jika di sekitarnya ada yang melakukan sesuatu yang aneh maka ia akan menggunakan imajinasinya yang liar itu untuk memuaskan dirinya sendiri. Ia akan selalu sendiri kalau bukan karena kedua orangtuanya dan adiknya yang ia sayangi. Ia merasa bahwa ia dapat hidup dengan tenang asal bersama mereka. Seperti pada umumnya, anak-anak pendiam sepertinya selalu dijahili hingga dianiaya di sekolah. Terkadang beberapa dari ‘kejahilan’ dan ‘permainan’ belaka itu mengirimnya ke UKS selama sehari, namun ia tetap tenang karena ia percaya keluarganya akan selalu ada untuknya. Imajinasinya yang liar itu juga selalu mampu menghibur dirinya yang kesepian. Hal ini terus berlanjut sejak kelas 2 SD hingga saatnya masuk ke jenjang SMP. Ia berpikir bahwa dirinya itu dapat mengubah hidupnya walaupun seidkit agar tidak mendapat penganiayaan. Namun, berandalan yang menganiayanya ikut masuk SMP yang sama dengannya, jadi sudah dapat ditebak apa yang terjadi padanya selama semester 1 itu. Selama itu ia menahan, walau sedikit, amarah dan benci terhadap orang lain selain keluarganya. Akhir-akhir ini perasaan itu memuncak dan suatu hari lepas kendali. Walaupun di lubuk hatinya ia tahu kalau ia lepas kendali itu akan membuat keluarganya sedih, matanya telah dibutakan iblis amarah. Kehausan akan darah dari orang lain. Rasa benci terhadap orang lain. Segala sakit dan luka ynag telah diterimanya. Semua itu telah menggunung dalam dirinya dan hari itu mereka, telah menginjak sebuah ranjau darat yang terhubung ke ratusan bom nuklir di sekitarnya. Tidak hanya yang menginjak, tapi segala di sekitarnya ikut hancur.
            Pada hari itu, ia mengamuk. Di saat kaki salah satu penganiayanya menendangnya, ia menangkapnya dan menariknya. Ia tiba-tiba bangkit dan mulai mengahajar semuar yang ada di sekitarnya waktu itu dengan cepat, kira-kira ada 5 orang. Tidak hanya itu, rasa tidak puasnya tertinggal. Walau sudah menghajar orang-orang itu ia merasa bahwa ini masih kurang. Ia merasa bahwa mereka harus merasakan apa yang telah ia rasakan. Diangkatnya meja terdekat dan dibantingnya berulang kali pada para penganiayanya tanpa ampun, seperti mereka yang menyiksanya secara fisik dan mental tanpa ampun selama bertahun-tahun. Dilakukannya terus menerus hingga kepala mereka terlihat seperti bubur merah. Tapi dengan ini ia masih belum puas. Ia mengingat bagaimana orang-orang lain selain penganiayanya hanya pernah menertawakannya atau membiarkannya ketika dia dianiaya. Guru-guru juga telah membisu karena jumlah sedikit uang yang telah mereka terima. Ia tak dapat dan tak berniat memaafkan satupun dari mereka, yang hanya menonton dan menikmati siksanya selama ini. Amarahnya menyebabkan tubuhnya memproduksi adrenalin dalam jumlah besar dan beberapa anggota tubuhnya dipaksa melewati batasnya. Namun, dengan amarah dan benci sendiri, ia mampu membuat segalanya mungkin. Saat ini ia hanya mampu mengimajinasikan bagaimana ia harus membalas orang-orang itu. Seketika itu salah satu anggota kelasnya masuk dan menatapnya dengan ketakutan di matanya, lalu berteriak keras-keras. Ia tak dapat berpikir apa-apa dan langsung berlari ke arahnya. Ia menabrakkan tubuhnya hingga tubuh anggota kelasnya itu menabrak dinding, kepalanya terbentur paku di dinding yang digunakan untuk menggantung sapu. Kini anggota kelasnya itu hanya mampu berdiri dengan kepalanya menggantung di paku itu, matanya yang kosong menatap jauh. Mati. Hari itu ia mengamuk dan membunuh siapapun yang dilihatnya, biar itu orang yang menganiayanya atau bukan, ia tak dapat memaafkan mereka.
            Di peristiwa berdarah hari itu kira-kira 120 siswa-siswi SMP Cita Negeri 2 dibunuh dengan sadis. Ia baru dapat dihentikan oleh pasukan polisi pengontrol kericuhan demo, yang masih membuahkan korban jiwa, setengah dari pasukan itu mati dibunuhnya. Peristiwa ini membuatnya, tak mampu memaafkan manusia selain keluarganya.