Web Novel: Gagalagi
Bab 1 part 1
“Aku Berhasil Gagal”
Burung-burung berkicau. Embun pagi menetes dari satu daun ke
daun yang lain dan membentuk sebuah tetesan air yang lebih besar. Desir dahan
bergesekan dan ciuman lembut mentari pagi membangunkanku.
Mataku yang sembap dan masih setengah mengantuk perlahan
terbuka dan menatap langut-langit kamarku. Tergantung banyak sekali lukisan yang
pernah kulukis dulu. Kebanyakan melukiskan tentang hal-hal atau orang-orang di
sekitarku. Memang aku menyebutnya lukisan, tetapi sebenarnya itu semua hanyalah
torehan pensil diatas kertas, jadi mungkin lebih tepat disebut sketsa?
Aku bangun dari kasur dan terduduk. Kulihat sekelilingku.
Kamarku penuh dengan barang-barang setengah jadi. Semua itu menjadi pengingat
bahwa aku tak memiliki bakat di bidang itu.
Di tengah Desa Sukamaju yang biasa ini, hidup penduduk
desa biasa. Banyak yang berprofesi sebagai petani dan pedagang. Di antara semua
hal yang biasa itu, hiduplah keluargaku yang sangat sangat luar biasa.
Setiap anggota keluargaku memilki keunikan tersendiri, baik
dalam sifat maupun kemampuan. Sedangkan aku walaupun sudah beranjak umur 14
tahun, masih belum menemukan keunikanku.
Entah bagaimana dan kapan, keunikan tersendiri ini menjadi
kewajiban di keluargaku, setiap anggota minimal memiliki satu keunikan
tersendiri.
Aku adalah anak yang unik dalam artian yang berbeda, karena
aku normal di antara orang-orang yang unik.
Aku berdiri dan berkeliling kamarku.
Kudekati sebuah sepatu yang tidak diikat. Ini adalah
pengingat dari kakekku yang gesit bahwa aku lamban.
Kakekku adalah pria paling gesit di desa. Kakek berbicara
dengan cepat, berpikir dengan cepat, dan bergerak dengan sangat cepat. Melihat
diriku yang tidak unik, kakek mencoba menguji kegesitanku dengan harapan agar
keunikanku akan muncul di sekitar keunikan kakek.
Kakek mengajakku berlari keliling kampung. Ketika kami baru
mulai, kakiku langsung tersandung dan aku jatuh tersungkur sementara kakek
telah mengelilingi ¼ desa.
Gagal. Aku normal, karena aku lupa mengikat tali sepatuku.
Di sampingnya bersandar sebuah sapu yang masih bagus. Ini
masih normal katamu? Harusnya sapu ini hancur berkeping-keping.
Ayahku adalah pria terkuat di desa. Ayah mampu mencabut
sebuah pohon dengan satu tangan dan melemparnya melewati gunung jauh di utara,
dan masih mampu push-up 100 kali, sit-up 100 kali, lompat tali 100 kali, dan
lari sprint 10 km.
Ayah menyuruhku menghancurkan sapu ini dengan dua jari. Ayah
mendemonstrasikannya seperti meremas kapas, sementara aku hanya mampu
mematahkan serabutnya.
Gagal. Aku normal.
Di pojok kamarku terdapat sebuah kaca seukuran badanku yang
bersih mengkilap dan dihiasi berbagai ornamen dan ukiran yang indah.
Yang ini terlihat bagus? Harusnya aku merasa tua ketika
melihat diriku sendiri.
Nenekku adalah wanita tertua di desa, bahkan mungkin di
dunia. Nenek pernah mengalami suatu kecelakaan yang menyebabkannya menua tanpa
meninggal, tapi nenek tak pernah menceritakan kecelakaan apa yang begitu
prahnya hingga jadi seperti ini. Kini nenek berumur 923 tahun.
Nenek menyuruhku bercermin, dan memperhatikan apakah aku
terlihat tua secara penampilan maupun perilaku.
Gagal. Aku terlihat sesuai usiaku.
Di atas meja samping kasurku terdapat beberapa lembar amplop
berwarna merah dan merah muda. Isinya merupakan kata-kata indah dan manis yang
penuh rasa sayang.
Pamanku ada pria paling jones di desa. Tak pernah sekalipun
ia mendapat pasangan hidup, respons yang positif, ataupun penggemar.
Paman mengadakan suatu acara dimana para gadis desa akan
mengirimkan surat yang berisi apa yang mereka pikir tentang diriku.
Gagal. Aku mendapat beberapa surat cinta, namun tidak
terlalu banyak sehingga dapat disebut memesona.
Pamanku menangis semalaman setelah itu.
Dengan wajah memerah aku meletakkan kembali amplop-amplop
itu.
Di dekat pintu kamarku tergantung sebuah baju berukuran
kecil.
Tanteku adalah wanita yang sebenarnya langsing, namun setiap
kali tante mengenakan sesuatu maka tante akan terlihat sangat gemuk. Bahkan
tante sendiri tak mengerti bagaimana itu bisa terjadi. Karena itu, biasanya
tante hanya akan mengenakan pakaian dalamnya jika di rumah, hanya dalam pakaian
itu tante masih terlihat langsing.
Tante menyuruhku mengenakan baju ukuran kecil itu.
Gagal. Aku terlihat biasa saja ketika mengenakannya, namun
tanteku langsung terlihat sangat menggemuk ketika mencobanya.
Tersembunyi di balik cermin pemberian nenek adalah sebuah
guillotine mini.
Abangku adalah pria paling nekat (baca: GREGET) di desa.
Abang menyuruhku meletakkan tanganku di guillotine dan
mencoba menariknya sebelum terpotong.
Abang mendemonstrasikannya berulang-ulang dengan greget dan
tidak terjadi apa-apa.
Gagal. Aku bahkan tak berani mendekat, tetapi tidak penakut
sehingga tidak menjadi unik.
Di jari manis tangan kananku terdapat sebuah cincin dari
mbakku.
Mbakku adalah wanita paling berkarisma dan berkuasa di desa.
Semua orang biasa-termasuk aku-akan tunduk patuh terhadap segala perkataannya
sejauh kemampuan kami.
Mbak menyuruhku memerintahkan sesuatu pada sekelompok orang
yang tak kukenal di pasar.
Gagal. Sekelompok orang itu tidak menurut, tetapi ada satu
di antara mereka yang memukul bokongnya sesuai perintahku.
Terpajang di atas kasurku adalah sebuah tengkorak siluman
yang gagal berevolusi dan berwujud sangat mengerikan.
Ibuku adalah keturunan keluarga bangsawan iblis dari dunia
iblis. Kakek dan nenekku dari sisi ibu adalah iblis terkuat sepanjang masa. Ibu
juga memiliki kekuatan fisik dan sihir yang jauh melampaui makhluk apa pun.
Ibu memanggil seekor siluman raksasa dan menyuruhku
menjinakkannya.
Gagal. Aku bahkan tak mampu mengaktifkan sihir yang mengalir
dalam darahku. Aku dapat disebut dengan unik memiliki darah ini, tapi keluargaku
menganggapnya biasa.
Terakhir, jauh melebihi jumlah pajangan lukisanku, foto
adikku tersebar di seluruh penjuru kamarku.
Adek adalah idola desa dan gadis paling imut di desa. Tak
ada yang mampu mengatakan ‘tidak’ padanya, kecuali ayah dan ibu. Untungnya adek
masih suci.
Adek mengajakku menyanyi dan berpose di balai desa. Hal ini
rutin dilakukannya karena adek memiliki banyak penggemar.
Gagal. Penampilanku biasa saja, bahkan dapat dibilang buruk.
Lalu ada aku, yang sebenarnya unik karena tidak memiliki
keunikan. Seluruh anggota keluargaku masih ribut dan pusing tujuh keliling
tentang masalah ini.
Salam kenal, namaku Yonek Genera, seorang remaja 14 tahun
yang normal di antara manusia unik. Mungkin namaku saja yang unik dariku, ya?
Ngemeng-ngemeng gua cowok, vroh.
___==oOo==___
Enjoy!