Senin, 14 Maret 2016


Web Novel: Gagalagi

Bab 1 part 1

“Aku Berhasil Gagal”

Burung-burung berkicau. Embun pagi menetes dari satu daun ke daun yang lain dan membentuk sebuah tetesan air yang lebih besar. Desir dahan bergesekan dan ciuman lembut mentari pagi membangunkanku.

Mataku yang sembap dan masih setengah mengantuk perlahan terbuka dan menatap langut-langit kamarku. Tergantung banyak sekali lukisan yang pernah kulukis dulu. Kebanyakan melukiskan tentang hal-hal atau orang-orang di sekitarku. Memang aku menyebutnya lukisan, tetapi sebenarnya itu semua hanyalah torehan pensil diatas kertas, jadi mungkin lebih tepat disebut sketsa?

Aku bangun dari kasur dan terduduk. Kulihat sekelilingku. Kamarku penuh dengan barang-barang setengah jadi. Semua itu menjadi pengingat bahwa aku tak memiliki bakat di bidang itu.

Di tengah Desa Sukamaju yang biasa ini, hidup penduduk desa biasa. Banyak yang berprofesi sebagai petani dan pedagang. Di antara semua hal yang biasa itu, hiduplah keluargaku yang sangat sangat luar biasa.

Setiap anggota keluargaku memilki keunikan tersendiri, baik dalam sifat maupun kemampuan. Sedangkan aku walaupun sudah beranjak umur 14 tahun, masih belum menemukan keunikanku.

Entah bagaimana dan kapan, keunikan tersendiri ini menjadi kewajiban di keluargaku, setiap anggota minimal memiliki satu keunikan tersendiri.

Aku adalah anak yang unik dalam artian yang berbeda, karena aku normal di antara orang-orang yang unik.

Aku berdiri dan berkeliling kamarku.

Kudekati sebuah sepatu yang tidak diikat. Ini adalah pengingat dari kakekku yang gesit bahwa aku lamban.

Kakekku adalah pria paling gesit di desa. Kakek berbicara dengan cepat, berpikir dengan cepat, dan bergerak dengan sangat cepat. Melihat diriku yang tidak unik, kakek mencoba menguji kegesitanku dengan harapan agar keunikanku akan muncul di sekitar keunikan kakek.

Kakek mengajakku berlari keliling kampung. Ketika kami baru mulai, kakiku langsung tersandung dan aku jatuh tersungkur sementara kakek telah mengelilingi ¼ desa.

Gagal. Aku normal, karena aku lupa mengikat tali sepatuku.

Di sampingnya bersandar sebuah sapu yang masih bagus. Ini masih normal katamu? Harusnya sapu ini hancur berkeping-keping.

Ayahku adalah pria terkuat di desa. Ayah mampu mencabut sebuah pohon dengan satu tangan dan melemparnya melewati gunung jauh di utara, dan masih mampu push-up 100 kali, sit-up 100 kali, lompat tali 100 kali, dan lari sprint 10 km.

Ayah menyuruhku menghancurkan sapu ini dengan dua jari. Ayah mendemonstrasikannya seperti meremas kapas, sementara aku hanya mampu mematahkan serabutnya.

Gagal. Aku normal.

Di pojok kamarku terdapat sebuah kaca seukuran badanku yang bersih mengkilap dan dihiasi berbagai ornamen dan ukiran yang indah.

Yang ini terlihat bagus? Harusnya aku merasa tua ketika melihat diriku sendiri.

Nenekku adalah wanita tertua di desa, bahkan mungkin di dunia. Nenek pernah mengalami suatu kecelakaan yang menyebabkannya menua tanpa meninggal, tapi nenek tak pernah menceritakan kecelakaan apa yang begitu prahnya hingga jadi seperti ini. Kini nenek berumur 923 tahun.

Nenek menyuruhku bercermin, dan memperhatikan apakah aku terlihat tua secara penampilan maupun perilaku.

Gagal. Aku terlihat sesuai usiaku.

Di atas meja samping kasurku terdapat beberapa lembar amplop berwarna merah dan merah muda. Isinya merupakan kata-kata indah dan manis yang penuh rasa sayang.

Pamanku ada pria paling jones di desa. Tak pernah sekalipun ia mendapat pasangan hidup, respons yang positif, ataupun penggemar.

Paman mengadakan suatu acara dimana para gadis desa akan mengirimkan surat yang berisi apa yang mereka pikir tentang diriku.

Gagal. Aku mendapat beberapa surat cinta, namun tidak terlalu banyak sehingga dapat disebut memesona.

Pamanku menangis semalaman setelah itu.

Dengan wajah memerah aku meletakkan kembali amplop-amplop itu.

Di dekat pintu kamarku tergantung sebuah baju berukuran kecil.

Tanteku adalah wanita yang sebenarnya langsing, namun setiap kali tante mengenakan sesuatu maka tante akan terlihat sangat gemuk. Bahkan tante sendiri tak mengerti bagaimana itu bisa terjadi. Karena itu, biasanya tante hanya akan mengenakan pakaian dalamnya jika di rumah, hanya dalam pakaian itu tante masih terlihat langsing.

Tante menyuruhku mengenakan baju ukuran kecil itu.

Gagal. Aku terlihat biasa saja ketika mengenakannya, namun tanteku langsung terlihat sangat menggemuk ketika mencobanya.

Tersembunyi di balik cermin pemberian nenek adalah sebuah guillotine mini.

Abangku adalah pria paling nekat (baca: GREGET) di desa.

Abang menyuruhku meletakkan tanganku di guillotine dan mencoba menariknya sebelum terpotong.

Abang mendemonstrasikannya berulang-ulang dengan greget dan tidak terjadi apa-apa.

Gagal. Aku bahkan tak berani mendekat, tetapi tidak penakut sehingga tidak menjadi unik.

Di jari manis tangan kananku terdapat sebuah cincin dari mbakku.

Mbakku adalah wanita paling berkarisma dan berkuasa di desa. Semua orang biasa-termasuk aku-akan tunduk patuh terhadap segala perkataannya sejauh kemampuan kami.

Mbak menyuruhku memerintahkan sesuatu pada sekelompok orang yang tak kukenal di pasar.

Gagal. Sekelompok orang itu tidak menurut, tetapi ada satu di antara mereka yang memukul bokongnya sesuai perintahku.

Terpajang di atas kasurku adalah sebuah tengkorak siluman yang gagal berevolusi dan berwujud sangat mengerikan.

Ibuku adalah keturunan keluarga bangsawan iblis dari dunia iblis. Kakek dan nenekku dari sisi ibu adalah iblis terkuat sepanjang masa. Ibu juga memiliki kekuatan fisik dan sihir yang jauh melampaui makhluk apa pun.

Ibu memanggil seekor siluman raksasa dan menyuruhku menjinakkannya.

Gagal. Aku bahkan tak mampu mengaktifkan sihir yang mengalir dalam darahku. Aku dapat disebut dengan unik memiliki darah ini, tapi keluargaku menganggapnya biasa.

Terakhir, jauh melebihi jumlah pajangan lukisanku, foto adikku tersebar di seluruh penjuru kamarku.

Adek adalah idola desa dan gadis paling imut di desa. Tak ada yang mampu mengatakan ‘tidak’ padanya, kecuali ayah dan ibu. Untungnya adek masih suci.

Adek mengajakku menyanyi dan berpose di balai desa. Hal ini rutin dilakukannya karena adek memiliki banyak penggemar.

Gagal. Penampilanku biasa saja, bahkan dapat dibilang buruk.

Lalu ada aku, yang sebenarnya unik karena tidak memiliki keunikan. Seluruh anggota keluargaku masih ribut dan pusing tujuh keliling tentang masalah ini.

Salam kenal, namaku Yonek Genera, seorang remaja 14 tahun yang normal di antara manusia unik. Mungkin namaku saja yang unik dariku, ya? Ngemeng-ngemeng gua cowok, vroh.

                                                                       ___==oOo==___
Enjoy!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar