Kamis, 24 Maret 2016

#DailyRants4

Kelanjutan penulisan web novel sudah dilaksanakan! Tapi LAMA. APALAGI MAU KU TRANSLATE Bahasa INGGLIS.
Ahh.
Kuota internetku habis, mau beli lagi udah ndak boleh sama operator. Katanya aku sudah mencapai batas pembelian paket data. Aku baru tau kalo ada yang begituan. Dengan ini, aku numpang wifi hotel sebelah, soalnya sebelahnya apartemenku.

Kali ini aku akan menentukan beberapa hal.
1. Rasanya aku ngomong sendiri, kumohon, please, onegaishimasu, comment dong, balas aku. AKU TAHU KALIAN BACA PENDERITAANKU. IYA, SOALNYA AKU NULIS DAN ADA LAPORANNYA KALO ADA YANG BACA.
Oke. Tenang.
2. Aku mau menetapkan sebutan untuk aku dan kalian semua. Aku: Admin. Kalian: fansberatsepanjangmasa. Oke, stop, cukup, hentikan.
Kalian: ... coba kalian sendiri yang nentuin. Harap comment.
3. Dalam 1 bulan lagi, admin akan libur panjang. Selama itu admin akan sibuk ngurusin ini dan itu. Nah, salah satunya adalah blog ini. Sampai saat itu, admin minta kritik dan saran. Entah tentang blog nya, tentang web novel nya, tentang admin, tentang penderitaan admin, atau tentang apa saja yang relevan.
Terimakasih.
As always,
vonus:

Selasa, 22 Maret 2016

#DailyRants3

Heh, kelewat sehari. Kemarin ndak ngepost.
Apa kabar semua? Semoga baik aja.
Aku ndak begitu baik.

Hari ini ada sekolah dan aku bangun pagi2 jam 4 tadi. Perutku rasanya lapar tapi kentut-kentut terus. Jangan-jangan, Kentutus Laparisitis?
Oke. Stop, cukup, hentikan.
Ternyata, laptopku yang rusak itu, NDAK BOLEH DIPERBAIKI. Tenang. Aku tenang. Aku ngetik di layar hape jadi lebih banyak typo yang bikin stres, tapi aku tenang.
Kata papa, "Bentar lagi UN dan kamu harus tahu prioritas, jadi laptopnya nanti aja." dan  ini bikin aku agak ndak enak. Masalahnya cuma nginstal ulang sistem, trus dibiarin nginstal sendiri, tapi ya sudahlah.
Sekarang aku kepikir, mungkin aku bisa ngetik lanjutan cerita "Gagalagi" pake hape. Masalahnya, ngetiknya ndak enak dan aku harus ngetik ulang dari awal. Tau ndak? Aku nulisnya udah habis berapa halaman di buku, itu pun membuat malas menulis lagi.
TAPI!
Tapi, aku akan tetap melakukannya, hanya saja update posting atau bab baru cerita akan agak lama.

Sedikit flashback tentang diriku.
Aku dulunya sekolah asrama di SMP yang namanya sering salah tulis. Senin lalu, aku ditarik dari asrama setelah hampir 3 tahun berasrama. Di asrama aku bisa make laptop sepuasnya di jam bebas. Nah, sekarang aku di rumah, pake hape, laptopnya rusak, disuruh fokus belajar UN yang menentukan aku melihara bebek atau ndak, dan sekarang aku malah sibuk nulis hal ndak jelas ini di blog.
TENTU INILAH ALASAN UTAMA RUBRIK #DailyRants YANG KUBUAT INI.
Di setiap #DailyRants, aku akan memberikan satu gambar bonus (vonus) untuk menghilangkan stres kalian semua.

Terima kasih sudah mau membaca semua cerita dan celotehku yang ndak jelas ini.

vonus:


                           ---==oOo==---

Senin, 21 Maret 2016

#DailyRants2

Oke. Ini pertama kalinya aku posting dari hape, smarpon adekku. Ada beberapa berita yang ingin kusampaikan kali ini, mumpung bisa pegang hape.
1. UN bulan Mei tgl 9-12, jadi aku akan berusaha giat belajar sampai saat itu. Mohon doanya, ya.
2. We're getting an English translation. Now I've seen some readers from America and some other English speaking countries, so I thought, perhaps I should make it in English as well. Don ya worrie bout mai Anglish, I ain't usin hoohle transkate.
3. Maaf karena aku ganti cerita lagi. Aku ganti cerita kali ini ke cerita yang lebih berkualitas, lah. Yang dua sebelumnya ujung2nya jadi "ngawur" iykwim. Aku kan pertama nulisnya di buku, baru diketik di komputer, nah, yang dibuku udah ngawur banget sampai ada temenku yang trauma bacanya. Yang sekarang terbukti bagus karena pas dibaca sama temenku yang lain (cewek) dia ketawa-ketiwi sendiri, tapi katanya bagus, kok.
Tapi, aklo kalian tetap mau baca yang "ngawur ndak jelas" silahkan komen.
Terimakasih.
vonus:
Enjoy!
                               ---==oOo==---

Kamis, 17 Maret 2016

#DailyRants

Baiklah, semuanya!
Sekarang aku lagi ndak mood nulis. Oke. Rasanya lagi agak sedih. Buku tulis yang jadi draft sudah penuh satu dan ceritanya sebenarnya sudah sampai bab 6.
Rasanya seperti para pembaca ditinggal, ya?
Kembali ke topik. Topiknya apa.
Ah, hari ini aku menemukan komputerku rusak entah bagaimana. Setelah upgrade Windows 10 beberapa minggu lalu semua dataku hilang...hiks.
Tapi bukan itu masalahnya sekarang. Kalian tahu tombol Windows? Yang ada gambar jendela miring itu, lho. Nah, yang itu. YANG ITU DIPENCET NDAK BISA.
Yang di pojok layar itu ada yang sama? NDAK BISA DI KLIK JUGA.
Aku stres walaupun sebenarnya itu ndak terlalu mengganggu kerjaan. Tapi, memang sangat mengurangi kenyamanan dan rasa bisa melakukan sesuatu.

Aku nemu beberapa cara memperbaikinya, tapi blom ada yang berhasil. Beberapa aplikasi bawaan pun berhenti bekerja dan itu membuatku sedih.
Silahkan, beberapa link dibawah ini.
http://icollecta.blogspot.co.id/2015/08/mengatasi-windows-10-start-menu-cortana.html
https://www.reddit.com/r/Windows10/comments/2kjwgu/latest_windows_10_preview_build_start_menu_wont/

Ada beberapa yang lainnya, sih, tapi aku males buka lagi.

Enjoy!

vonus:

                                                                       ---==oOo==---

Senin, 14 Maret 2016


Web Novel: Gagalagi

Bab 1 part 1

“Aku Berhasil Gagal”

Burung-burung berkicau. Embun pagi menetes dari satu daun ke daun yang lain dan membentuk sebuah tetesan air yang lebih besar. Desir dahan bergesekan dan ciuman lembut mentari pagi membangunkanku.

Mataku yang sembap dan masih setengah mengantuk perlahan terbuka dan menatap langut-langit kamarku. Tergantung banyak sekali lukisan yang pernah kulukis dulu. Kebanyakan melukiskan tentang hal-hal atau orang-orang di sekitarku. Memang aku menyebutnya lukisan, tetapi sebenarnya itu semua hanyalah torehan pensil diatas kertas, jadi mungkin lebih tepat disebut sketsa?

Aku bangun dari kasur dan terduduk. Kulihat sekelilingku. Kamarku penuh dengan barang-barang setengah jadi. Semua itu menjadi pengingat bahwa aku tak memiliki bakat di bidang itu.

Di tengah Desa Sukamaju yang biasa ini, hidup penduduk desa biasa. Banyak yang berprofesi sebagai petani dan pedagang. Di antara semua hal yang biasa itu, hiduplah keluargaku yang sangat sangat luar biasa.

Setiap anggota keluargaku memilki keunikan tersendiri, baik dalam sifat maupun kemampuan. Sedangkan aku walaupun sudah beranjak umur 14 tahun, masih belum menemukan keunikanku.

Entah bagaimana dan kapan, keunikan tersendiri ini menjadi kewajiban di keluargaku, setiap anggota minimal memiliki satu keunikan tersendiri.

Aku adalah anak yang unik dalam artian yang berbeda, karena aku normal di antara orang-orang yang unik.

Aku berdiri dan berkeliling kamarku.

Kudekati sebuah sepatu yang tidak diikat. Ini adalah pengingat dari kakekku yang gesit bahwa aku lamban.

Kakekku adalah pria paling gesit di desa. Kakek berbicara dengan cepat, berpikir dengan cepat, dan bergerak dengan sangat cepat. Melihat diriku yang tidak unik, kakek mencoba menguji kegesitanku dengan harapan agar keunikanku akan muncul di sekitar keunikan kakek.

Kakek mengajakku berlari keliling kampung. Ketika kami baru mulai, kakiku langsung tersandung dan aku jatuh tersungkur sementara kakek telah mengelilingi ¼ desa.

Gagal. Aku normal, karena aku lupa mengikat tali sepatuku.

Di sampingnya bersandar sebuah sapu yang masih bagus. Ini masih normal katamu? Harusnya sapu ini hancur berkeping-keping.

Ayahku adalah pria terkuat di desa. Ayah mampu mencabut sebuah pohon dengan satu tangan dan melemparnya melewati gunung jauh di utara, dan masih mampu push-up 100 kali, sit-up 100 kali, lompat tali 100 kali, dan lari sprint 10 km.

Ayah menyuruhku menghancurkan sapu ini dengan dua jari. Ayah mendemonstrasikannya seperti meremas kapas, sementara aku hanya mampu mematahkan serabutnya.

Gagal. Aku normal.

Di pojok kamarku terdapat sebuah kaca seukuran badanku yang bersih mengkilap dan dihiasi berbagai ornamen dan ukiran yang indah.

Yang ini terlihat bagus? Harusnya aku merasa tua ketika melihat diriku sendiri.

Nenekku adalah wanita tertua di desa, bahkan mungkin di dunia. Nenek pernah mengalami suatu kecelakaan yang menyebabkannya menua tanpa meninggal, tapi nenek tak pernah menceritakan kecelakaan apa yang begitu prahnya hingga jadi seperti ini. Kini nenek berumur 923 tahun.

Nenek menyuruhku bercermin, dan memperhatikan apakah aku terlihat tua secara penampilan maupun perilaku.

Gagal. Aku terlihat sesuai usiaku.

Di atas meja samping kasurku terdapat beberapa lembar amplop berwarna merah dan merah muda. Isinya merupakan kata-kata indah dan manis yang penuh rasa sayang.

Pamanku ada pria paling jones di desa. Tak pernah sekalipun ia mendapat pasangan hidup, respons yang positif, ataupun penggemar.

Paman mengadakan suatu acara dimana para gadis desa akan mengirimkan surat yang berisi apa yang mereka pikir tentang diriku.

Gagal. Aku mendapat beberapa surat cinta, namun tidak terlalu banyak sehingga dapat disebut memesona.

Pamanku menangis semalaman setelah itu.

Dengan wajah memerah aku meletakkan kembali amplop-amplop itu.

Di dekat pintu kamarku tergantung sebuah baju berukuran kecil.

Tanteku adalah wanita yang sebenarnya langsing, namun setiap kali tante mengenakan sesuatu maka tante akan terlihat sangat gemuk. Bahkan tante sendiri tak mengerti bagaimana itu bisa terjadi. Karena itu, biasanya tante hanya akan mengenakan pakaian dalamnya jika di rumah, hanya dalam pakaian itu tante masih terlihat langsing.

Tante menyuruhku mengenakan baju ukuran kecil itu.

Gagal. Aku terlihat biasa saja ketika mengenakannya, namun tanteku langsung terlihat sangat menggemuk ketika mencobanya.

Tersembunyi di balik cermin pemberian nenek adalah sebuah guillotine mini.

Abangku adalah pria paling nekat (baca: GREGET) di desa.

Abang menyuruhku meletakkan tanganku di guillotine dan mencoba menariknya sebelum terpotong.

Abang mendemonstrasikannya berulang-ulang dengan greget dan tidak terjadi apa-apa.

Gagal. Aku bahkan tak berani mendekat, tetapi tidak penakut sehingga tidak menjadi unik.

Di jari manis tangan kananku terdapat sebuah cincin dari mbakku.

Mbakku adalah wanita paling berkarisma dan berkuasa di desa. Semua orang biasa-termasuk aku-akan tunduk patuh terhadap segala perkataannya sejauh kemampuan kami.

Mbak menyuruhku memerintahkan sesuatu pada sekelompok orang yang tak kukenal di pasar.

Gagal. Sekelompok orang itu tidak menurut, tetapi ada satu di antara mereka yang memukul bokongnya sesuai perintahku.

Terpajang di atas kasurku adalah sebuah tengkorak siluman yang gagal berevolusi dan berwujud sangat mengerikan.

Ibuku adalah keturunan keluarga bangsawan iblis dari dunia iblis. Kakek dan nenekku dari sisi ibu adalah iblis terkuat sepanjang masa. Ibu juga memiliki kekuatan fisik dan sihir yang jauh melampaui makhluk apa pun.

Ibu memanggil seekor siluman raksasa dan menyuruhku menjinakkannya.

Gagal. Aku bahkan tak mampu mengaktifkan sihir yang mengalir dalam darahku. Aku dapat disebut dengan unik memiliki darah ini, tapi keluargaku menganggapnya biasa.

Terakhir, jauh melebihi jumlah pajangan lukisanku, foto adikku tersebar di seluruh penjuru kamarku.

Adek adalah idola desa dan gadis paling imut di desa. Tak ada yang mampu mengatakan ‘tidak’ padanya, kecuali ayah dan ibu. Untungnya adek masih suci.

Adek mengajakku menyanyi dan berpose di balai desa. Hal ini rutin dilakukannya karena adek memiliki banyak penggemar.

Gagal. Penampilanku biasa saja, bahkan dapat dibilang buruk.

Lalu ada aku, yang sebenarnya unik karena tidak memiliki keunikan. Seluruh anggota keluargaku masih ribut dan pusing tujuh keliling tentang masalah ini.

Salam kenal, namaku Yonek Genera, seorang remaja 14 tahun yang normal di antara manusia unik. Mungkin namaku saja yang unik dariku, ya? Ngemeng-ngemeng gua cowok, vroh.

                                                                       ___==oOo==___
Enjoy!

Jumat, 11 Maret 2016

Cara melihat ke arah matahari dengan lumayan aman dan murah, dalam keadaan gerhana maupun normal.

Beberapa hari yang lalu, tepatnya 09-03-2016 terjadi gerhana matahari hampir total di Indonesia. Bulan menutupi kira-kira 81% matahari, dan banyak orang yang ingin melihatnya.
Adik kelas saya, dengan jeniusnya menemukan cara alternatif selain mengambil teropong sekolah diam-diam!


Bahan:
-Penggaris plastik berwarna gelap (semakin gelap makin baik).

Cara pakai:
Bayangkan penggaris itu adalah kacamata, dan gunakanlah.

Enjoy!

Kamis, 04 Februari 2016

Finals coming up. It might not be until late May that I can post again.
UN menyerang, bung. Tendangan pisang dari kiri tepat ke tangan kananku yang menghitamkan jawaban pada LJK! Yak! Tangan pegal! Tryout 4 kali seminggu dan makanan berupa buku latihan soal UN pun mulai menyeruduk dan menumbangkanku! Btw UN sekitar tanggal 9-12 Mei, jadi sampai saat itu tak akan ada lagi update "Jam 5 Pagi Itu Sudah Siang".
Terima kasih wahai pembaca.

Senin, 01 Februari 2016

Bagi para pembaca

Akhir-akhir ini kulihat banyak pohon cemara...bukan, maksudnya kulihat ada beberapa orang yang membaca postingan blog ini. Padahal hanya web novel biasa yang kutulis di buku untuk mengisi kesenjangan waktu di tengah jam pelajaran. Aku ndak tahu apa ada suatu cara untuk nyari blog random dan baca-baca lewat google atau bagaimanapun caranya, tapi aku penasaran: siapa, sih yang baca blog ku ini?
Mohon komen.

Selasa, 26 Januari 2016


Jam 5 Pagi Itu Sudah Siang


Bab 1

“Hukuman”

Kantor polisi pusat, HQ.

Aku ndak tahu kalau ada yang seperti ini di kotaku. Selama 2 tahun aku di kamar telah banyak yang berubah dari kota ini.

Kini kotaku menjadi ibukota negara, mengejutkan.

Aku dibawa ke ruang interogasi dan dilucuti dari barang bawaanku. Tentu mereka hanya akan menemukan kantung kecil berisi recehan, tapi itu pun tetap diambil.

Sampai kantung itu ndak kembali aku berhak menuntut, lho. Recehan, kan, lumayan buat beli tempe goreng...satu.

Aku diminta duduk dan ditanyai hal-hal yang tak kumengerti.

Terorisme? Kupikir aku sudah dihukum atas itu.

Ledakan? Sistem? Virus?

Semakin ditanyai semakin aku tak mengerti, tapi ada satu hal yang kumengerti. Ini tentang perusahaanku, CreArts. Ada apa sekarang?

“Kau dituduh atas terorisme, terhadap semua pengguna dan orang disekitar pengguna perangkat lunakmu di dunia.”

“Terorisme terhadap pengguna CreArts?”

“Jangan berlagak bodoh! Semua komputer yang menggunakan software CreArts meledak kecuali milikmu!”

Meledak? Sejak kapan? Aku ndak lihat apa-apa di detiknews...oh, karena komputer servernya meledak. Dan bagaimana mereka tahu komputerku ndak meledak? Stalker. Mereka pasti menyusup atau memata-matai aku dengan suatu cara.

“Ya sudah, sekarang hukumannya apa?”

“Menghitung semua masalah dan kerusakan yang kau sebabkan, 103 tahun penjara dan ganti rugi sebanyak 90,000 miliar dolar Zimbabwe.”

“Dolar Zimbabwe?”

“Ya bukanlah, dolar Amrik.”

Aku hanya dapat terdiam. Hukuman itu artinya seumur hidup di penjara, dan semua milikku diambil ditambah hutang beberapa puluh milar. Hampir semuar orang di Bumi memakai software CreArts dan dapat kubayangkan betapa ruginya mereka kalau komputernya meledak.

Ekonomi dunia akan hancur sementara dan krisis dimana-mana, hanya karena komputer mereka meledak.

Cyber-terrorism yang mematikan dan dapat berujung pada Perang Dunia III.

Tuduhan mereka bukan tanpa alasan, karena aku dpat mengirim pesan ke sluruh pengguna CreArts di dunia, jadi kenapa aku tak mengirim virus? Pasti mereka berpikir begitu.

Mereka bilang komputer orang-orang terkena virus dan meledak dahsyat. Beberapa ratus rumah terbakar dan ribuan orang meninggal.

Aku tak punya bukti untuk menyatakan aku tak bersalah, jadi aku akana membiasakan diri dengan makanan yang sama setiap hari dan tidur di ranjang keras.

“Baiklah, kumohon ambil semua dariku; perusahaanku, uangku, rumahku, tapi jangan ambil bajuku ini,”

“Jangan sok tenang begitu! Anak-istriku mati karena kamu! Kamu akan dikirim ke Nusakambangan, kuharap kamu mati membusuk di sana!”

Petugas yang mengiterogasiku tadi keluar sambil menangis.

Tapi, Nusakambangan, ya? Pulau penjara yang tiada bisa kabur darinya, paling tidak tanpa kendaraan laut atau udara.

Nah, mari kita hidup di penjara dengan bahagia!

--o--

Selasa, 19 Januari 2016

Aku mau ganti cerita, yang sebelumnya ndak terlihat prospek yang terlalu bagus *prospek apaan*



Jam 5 Pagi Itu Sudah Siang


Prolog

Aku terbangun di sebuah ruangan yang gelap. Di hadapanku terdapat tiga buah monitor ukuran 21 inci yang menayangkan barisan kode dan diagram-diagram rumit. Ini kamarku, pasti aku tertidur waktu menyelesaikan programku. Aku sampai lupa kalau ini kamarku sendiri.

Kamarku berantakan, sudah berapa bulan aku disini? 2 bulan? 8 bulan? Masa kehamilan?

Selama itu aku tidak pernah keluar dari kamar ini, bahkan untuk panggilan alam sudah tersedia tempatnya di kamar ini.

Rasanya badanku sedikit pegal, waktunya peregangan.

Aku berdiri dari kursi yang sangat empuk dan mulai meliukkan badanku. Suara tulang-tulangku mengertak dapat terdengar sangat jelas dengan setiap gerakan terkecil.

Kulihat di dinding kamarku tetempel kertas bertuliskan “29-02-2014”. Itu adalah hari ulang tahunku tahun lalu. Kulihat di kalender komputer bertuliskan “06-01-2016”.

Sudah hampir dua tahun aku di kamar ini, duduk, bekerja.

Pekerjaanku hanya mengatur perusahaan dan menyumbang ide-ide untuk program baru. Aku adalah seorang CEO perusahaan perangkat lunak, “CreArts” yang kudirikan tahun 2010 silam.

Tanggal lahirku memang aneh, aku lahir pada tahun 2002, tahun kabisat. Secara standar normal, aku berumur 13 hampir 14 tahun. Tapi secara jumlah ultah, aku baru berumur 3 tahun.Mungkin orang tuaku sengaja melakukannya, melahirkanku pada tanggal 26 Februari.

Orang tuaku.

Ketika memikirkan mereka aku terhenti, peregangan juga sudah selesai, sih. Ayahku meninggal ketika aku berumur 8 tahun akibat bom rakitan seorang teroris di tempat kerjanya. Kini kasus itu sudah selesai dan otaknya juga sudah dieksekusi. Ibuku.....ibuku hilang dua tahun lalu, di hari ulang tahunku yang ke-12. Ibuku hilang tanpa meninggalkan jejak sedikitpun, hingga terlihat seperti aku tidak pernah punya ibu ketika aku melapor ke polisi. Penculiknya telah mengambil dan menghilangkan semua bukti keberadaannya, para tetangga pun telah diancam dan dibisukan.

Aku tak tahu lagi apa yang harus kulakukan, jadi sebagai pencipta sistem operasi CreArts aku mengirim pesan dengan kode khusu kepada semua pengguna perangkat lunakku di dunia.

CreArts itu lumayan terkenal di dunia.

Pesan yang bertuliskan “Ibuku hilang, tolong carikan beliau.” Malah dianggap terorisme dan memunculkan mitos-mitos gelap tentang perusahaanku.

Apa itu Maksudnya?!

Karena itu aku dihukum dan dikurung di rumah selama 2 bulan, tapi pada akhirnya aku tak keluar kamar selama hampir 2 tahun.

Tak dapat kukatakan itu tak disengaja, tapi aku kehilangan harapan mencari ibuku. Tak ada jejak sedikitpun. Aku bahkan tak tahu harus mulai dari mana.

Tapi hari ini akan kucari ibuku! Langakah pertamaku keluar kamar dimulai hari ini!

Aku mandi sebentar untuk menyegarkan badan dan mengenakan pakaian untuk keluar rumah, kemeja dan celana panjang standar.

Aku buka kunci kamarku dan berjalan keluar menuju pintu rumah. Setelah beberapa langkah aku menyadari sesuatu yang aneh.

Rumahku bersih, kinclong.

Rumahku memang tidak terlalu besar, tapi selama ini aku selalu di kamar. Setiap pagi, siang, dan sore selalu ada makanan di mejaku. Siapa yang melakukannya?

Hantu kah? Hiiiy.

Aku melanjutkan langkahku menuju pintu dan mengenakan sepatuku. Aku agak terkejut sepatuku masih muat setelah 2 tahun terbengkalai, dan sekali lagi, bersih.

Ketika hendak membuka pintu aku mendengar suara aneh, seperti sirine. Kuletakkan tangaku de pegangan pintu dan perlahan memutar kuncinya lalu membukanya.

Seketika aku melangkah keluar aku langsung dibutakan cahaya yang sangat terang.

“Berhenti! Ini polisi, kau ditangkap atas tuduhan terorisme!”

Lagi?

“NghAAa?”

Kata-kata pertamaku dalam beberapa bulan terakhir tak dapat keluar seperti yang kuharapkan.

Di hadapanku baris-berbaris mobil polisi dan personil bersenjata menodongkan Kalashnikov dan UMP-45 ke wajahku. Di atas dapat terlihat helikopter polisi menyoroti pupilku yang mengecil dengan lampu 100 watt-nya itu.

Sepertinya ada fitnah disini, tapi aku masih belum pulih karena berbulan-bulan tak bergerak. Jadi, aku hanya dapat mengangkat tangan dan mengikuti mereka.

“Tolong jauhkan senjata api yang pengamannya masih terpasang itu...”

Aku berkata lirih tentang observasi tajamku. Para personil tadi langsung mengecek senjata mereka dan memandang satu sama lain, lalu melepas pengaman senjata mereka.

“Diamlah dan jalan!”

Dasar amatir.

Aku pun dibawa ke kantor polisi terdekat.

--o--

Kamis, 10 Desember 2015

Web Novel : Evil's Reasons

Prolog

            Ia adalah seorang murid SMP biasa. Sedikit pintar namun tak sampai tingkat jenius, walaupun banyak yang menyebutnya begitu. Di kenyataan berkali-kali ia di tes IQ dan hasilnya selalu diatas 150 dan masih bertambah seiring ia tumbuh. Hidupnya agak membosankan baginya, namun dapat berbahagia pada waktu-waktu yang amat langka dimana ia dapat melakukan sesuatu yang menarik. Dengan berkhayal ia akan membuat suasana di sekitarnya lebih seru, dan yang lebih jarang adalah melakukannya sungguhan. Jika di sekitarnya ada yang melakukan sesuatu yang aneh maka ia akan menggunakan imajinasinya yang liar itu untuk memuaskan dirinya sendiri. Ia akan selalu sendiri kalau bukan karena kedua orangtuanya dan adiknya yang ia sayangi. Ia merasa bahwa ia dapat hidup dengan tenang asal bersama mereka. Seperti pada umumnya, anak-anak pendiam sepertinya selalu dijahili hingga dianiaya di sekolah. Terkadang beberapa dari ‘kejahilan’ dan ‘permainan’ belaka itu mengirimnya ke UKS selama sehari, namun ia tetap tenang karena ia percaya keluarganya akan selalu ada untuknya. Imajinasinya yang liar itu juga selalu mampu menghibur dirinya yang kesepian. Hal ini terus berlanjut sejak kelas 2 SD hingga saatnya masuk ke jenjang SMP. Ia berpikir bahwa dirinya itu dapat mengubah hidupnya walaupun seidkit agar tidak mendapat penganiayaan. Namun, berandalan yang menganiayanya ikut masuk SMP yang sama dengannya, jadi sudah dapat ditebak apa yang terjadi padanya selama semester 1 itu. Selama itu ia menahan, walau sedikit, amarah dan benci terhadap orang lain selain keluarganya. Akhir-akhir ini perasaan itu memuncak dan suatu hari lepas kendali. Walaupun di lubuk hatinya ia tahu kalau ia lepas kendali itu akan membuat keluarganya sedih, matanya telah dibutakan iblis amarah. Kehausan akan darah dari orang lain. Rasa benci terhadap orang lain. Segala sakit dan luka ynag telah diterimanya. Semua itu telah menggunung dalam dirinya dan hari itu mereka, telah menginjak sebuah ranjau darat yang terhubung ke ratusan bom nuklir di sekitarnya. Tidak hanya yang menginjak, tapi segala di sekitarnya ikut hancur.
            Pada hari itu, ia mengamuk. Di saat kaki salah satu penganiayanya menendangnya, ia menangkapnya dan menariknya. Ia tiba-tiba bangkit dan mulai mengahajar semuar yang ada di sekitarnya waktu itu dengan cepat, kira-kira ada 5 orang. Tidak hanya itu, rasa tidak puasnya tertinggal. Walau sudah menghajar orang-orang itu ia merasa bahwa ini masih kurang. Ia merasa bahwa mereka harus merasakan apa yang telah ia rasakan. Diangkatnya meja terdekat dan dibantingnya berulang kali pada para penganiayanya tanpa ampun, seperti mereka yang menyiksanya secara fisik dan mental tanpa ampun selama bertahun-tahun. Dilakukannya terus menerus hingga kepala mereka terlihat seperti bubur merah. Tapi dengan ini ia masih belum puas. Ia mengingat bagaimana orang-orang lain selain penganiayanya hanya pernah menertawakannya atau membiarkannya ketika dia dianiaya. Guru-guru juga telah membisu karena jumlah sedikit uang yang telah mereka terima. Ia tak dapat dan tak berniat memaafkan satupun dari mereka, yang hanya menonton dan menikmati siksanya selama ini. Amarahnya menyebabkan tubuhnya memproduksi adrenalin dalam jumlah besar dan beberapa anggota tubuhnya dipaksa melewati batasnya. Namun, dengan amarah dan benci sendiri, ia mampu membuat segalanya mungkin. Saat ini ia hanya mampu mengimajinasikan bagaimana ia harus membalas orang-orang itu. Seketika itu salah satu anggota kelasnya masuk dan menatapnya dengan ketakutan di matanya, lalu berteriak keras-keras. Ia tak dapat berpikir apa-apa dan langsung berlari ke arahnya. Ia menabrakkan tubuhnya hingga tubuh anggota kelasnya itu menabrak dinding, kepalanya terbentur paku di dinding yang digunakan untuk menggantung sapu. Kini anggota kelasnya itu hanya mampu berdiri dengan kepalanya menggantung di paku itu, matanya yang kosong menatap jauh. Mati. Hari itu ia mengamuk dan membunuh siapapun yang dilihatnya, biar itu orang yang menganiayanya atau bukan, ia tak dapat memaafkan mereka.
            Di peristiwa berdarah hari itu kira-kira 120 siswa-siswi SMP Cita Negeri 2 dibunuh dengan sadis. Ia baru dapat dihentikan oleh pasukan polisi pengontrol kericuhan demo, yang masih membuahkan korban jiwa, setengah dari pasukan itu mati dibunuhnya. Peristiwa ini membuatnya, tak mampu memaafkan manusia selain keluarganya.