Jam 5 Pagi Itu Sudah Siang
Prolog
Aku
terbangun di sebuah ruangan yang gelap. Di hadapanku terdapat tiga buah monitor
ukuran 21 inci yang menayangkan barisan kode dan diagram-diagram rumit. Ini
kamarku, pasti aku tertidur waktu menyelesaikan programku. Aku sampai lupa
kalau ini kamarku sendiri.
Kamarku
berantakan, sudah berapa bulan aku disini? 2 bulan? 8 bulan? Masa kehamilan?
Selama
itu aku tidak pernah keluar dari kamar ini, bahkan untuk panggilan alam sudah
tersedia tempatnya di kamar ini.
Rasanya
badanku sedikit pegal, waktunya peregangan.
Aku
berdiri dari kursi yang sangat empuk dan mulai meliukkan badanku. Suara
tulang-tulangku mengertak dapat terdengar sangat jelas dengan setiap gerakan
terkecil.
Kulihat
di dinding kamarku tetempel kertas bertuliskan “29-02-2014”. Itu adalah hari
ulang tahunku tahun lalu. Kulihat di kalender komputer bertuliskan
“06-01-2016”.
Sudah
hampir dua tahun aku di kamar ini, duduk, bekerja.
Pekerjaanku
hanya mengatur perusahaan dan menyumbang ide-ide untuk program baru. Aku adalah
seorang CEO perusahaan perangkat lunak, “CreArts” yang kudirikan tahun 2010
silam.
Tanggal
lahirku memang aneh, aku lahir pada tahun 2002, tahun kabisat. Secara standar
normal, aku berumur 13 hampir 14 tahun. Tapi secara jumlah ultah, aku baru berumur
3 tahun.Mungkin orang tuaku sengaja melakukannya, melahirkanku pada tanggal 26
Februari.
Orang tuaku.
Ketika memikirkan mereka
aku terhenti, peregangan juga sudah selesai, sih. Ayahku meninggal ketika aku
berumur 8 tahun akibat bom rakitan seorang teroris di tempat kerjanya. Kini
kasus itu sudah selesai dan otaknya juga sudah dieksekusi. Ibuku.....ibuku
hilang dua tahun lalu, di hari ulang tahunku yang ke-12. Ibuku hilang tanpa
meninggalkan jejak sedikitpun, hingga terlihat seperti aku tidak pernah punya
ibu ketika aku melapor ke polisi. Penculiknya telah mengambil dan menghilangkan
semua bukti keberadaannya, para tetangga pun telah diancam dan dibisukan.
Aku tak tahu lagi apa yang
harus kulakukan, jadi sebagai pencipta sistem operasi CreArts aku mengirim
pesan dengan kode khusu kepada semua pengguna perangkat lunakku di dunia.
CreArts itu lumayan
terkenal di dunia.
Pesan yang bertuliskan
“Ibuku hilang, tolong carikan beliau.” Malah dianggap terorisme dan memunculkan
mitos-mitos gelap tentang perusahaanku.
Apa itu Maksudnya?!
Karena itu aku dihukum dan
dikurung di rumah selama 2 bulan, tapi pada akhirnya aku tak keluar kamar
selama hampir 2 tahun.
Tak dapat kukatakan itu
tak disengaja, tapi aku kehilangan harapan mencari ibuku. Tak ada jejak
sedikitpun. Aku bahkan tak tahu harus mulai dari mana.
Tapi hari ini akan kucari
ibuku! Langakah pertamaku keluar kamar dimulai hari ini!
Aku mandi sebentar untuk
menyegarkan badan dan mengenakan pakaian untuk keluar rumah, kemeja dan celana
panjang standar.
Aku buka kunci kamarku dan
berjalan keluar menuju pintu rumah. Setelah beberapa langkah aku menyadari
sesuatu yang aneh.
Rumahku bersih, kinclong.
Rumahku memang tidak
terlalu besar, tapi selama ini aku selalu di kamar. Setiap pagi, siang, dan
sore selalu ada makanan di mejaku. Siapa yang melakukannya?
Hantu kah? Hiiiy.
Aku melanjutkan langkahku
menuju pintu dan mengenakan sepatuku. Aku agak terkejut sepatuku masih muat
setelah 2 tahun terbengkalai, dan sekali lagi, bersih.
Ketika hendak membuka
pintu aku mendengar suara aneh, seperti sirine. Kuletakkan tangaku de pegangan
pintu dan perlahan memutar kuncinya lalu membukanya.
Seketika aku melangkah
keluar aku langsung dibutakan cahaya yang sangat terang.
“Berhenti! Ini polisi, kau
ditangkap atas tuduhan terorisme!”
Lagi?
“NghAAa?”
Kata-kata pertamaku dalam
beberapa bulan terakhir tak dapat keluar seperti yang kuharapkan.
Di hadapanku
baris-berbaris mobil polisi dan personil bersenjata menodongkan Kalashnikov dan
UMP-45 ke wajahku. Di atas dapat terlihat helikopter polisi menyoroti pupilku
yang mengecil dengan lampu 100 watt-nya itu.
Sepertinya ada fitnah
disini, tapi aku masih belum pulih karena berbulan-bulan tak bergerak. Jadi,
aku hanya dapat mengangkat tangan dan mengikuti mereka.
“Tolong jauhkan senjata
api yang pengamannya masih terpasang itu...”
Aku berkata lirih tentang
observasi tajamku. Para personil tadi langsung mengecek senjata mereka dan
memandang satu sama lain, lalu melepas pengaman senjata mereka.
“Diamlah dan jalan!”
Dasar amatir.
Aku pun dibawa ke kantor
polisi terdekat.
--o--
Tidak ada komentar:
Posting Komentar